Sabtu, 30 April 2011

Hanya Ingin Jadi Orang Baik

Hanya Ingin Jadi Orang Baik

eramuslim - Hari ini aku lelah fisik dan batin. Seharian tadi aku melangkahkan kaki untuk mencari barisan kata penyampai fakta. Tak mudah. Aku harus berlari, berkejaran dengan waktu dan debu. Aku harus berlomba, beradu dengan manusia, sekedar untuk mendapat rangkaian kalimat yang keluar dari mulut sang pejabat. Sekedar meminta ucapan dari sekumpulan orang yang mengaku orang baik. Padahal, sejarah memaparkan, sebagian mereka adalah pembual. Pembual besar.

Kadang aku harus sedikit merayu dan memaksa. Bukan apa-apa, tanpa rayu dan paksaan, ada narasumberku yang enggan membuka mulutnya. Padahal dari kalimatnya lah aku mendapat upah. Padahal dari ceritanya lah aku mendapat penghargaan. Sekedar ucapan, “berita kamu bagus.”

Tak jarang aku harus berpura-pura iba, mengumbar senyum dan seolah ikut merasai mereka yang memikul duka. Padahal kutahu luka mereka bukan sembarang luka. Luka mereka adalah luka teramat dalam yang tak akan pernah hilang. Luka yang tak pernah kering oleh panasnya matahari. Luka yang tak pernah bisa diterbangkan oleh angin.

Namun aku malah memaksanya kembali mengingat dan memaparkan lukanya. Tanpa hatiku memaknai, merasakan lukanya. Tanpa tanganku menawarkan, melingkarkan sebuah pelukan, memberikan sedikit rasa nyaman. Lagi-lagi demi sebuah pujian, demi sebuah kekaguman.

Pernah aku dihadapkan pada pilihan. Saat aku harus memutuskan satu saja dari dua. Saat kulihat luka menganga disekitarku, aku harus memilih. Mencoba mengobati luka mereka sesegera atau mendahulukan membuat cerita dari luka itu. Dan aku memilih mendapat acungan jempol, karena cerita ku memampangkan luka itu.

Seringkali aku memaksa membuka memori mereka. Kenangan yang tak ingin dibuka. Dan aku memaksanya membuka atau memaksaku membukanya. Tanpa seijin pemiliknya, tanpa merasai akibatnya. Dan itu demi sebuah cerita. Cerita yang membuatku dikejar kalimat berbunga.

Waktu lalu, aku juga pernah menjual kata-kata manis. Seolah aku adalah peri yang bisa membantu si kecil. Padahal tak lain itu adalah bagian dari strategi. Berpura-pura simpati. Kepura-puraan untuk mulusnya penyusunan sebuah kisah. Kisah sejati dan mengharukan. Demi tetesan air mata pendengar cerita. Indikator keberhasilan penyajian cerita duka.

Pernah aku menatap bencana dengan datar. Karena itu bukan bencanaku. Bencana itu milik tokoh dalam kisahku. Aku hanya sekedar menyampaikan bencana itu dengan kata-kata haru. Tambahan pemanis disana-sini. Menuntun si tokoh untuk berekspresi sesuai dengan skenarioku.

Seolah itu adalah fiksi, bukan nyata. Tak perlu dimaknai, tak perlu dihargai. Hanya dibungkus. Untuk santapan mata dan kuping sekumpulan orang yang dinamakan penonton. Penonton cerita. Makin banyak mereka, makin baguslah aku.

Tapi, hari ini aku lelah.

Hari ini, aku tiba-tiba saja ingin merenung. Merenungi makna hidupku, merasai peranku dalam perjalanan sang waktu. Kali ini aku merasa tak lagi berhati. Kali ini di kepalaku hanya ada obsesi. Obsesi dihargai manusia dan diimbali deretan angka di rekeningku setiap bulan berganti.

Hari ini aku hanya ingin mengingat. Merindui masa saat aku bercita sederhana. Menjadi orang baik. Orang yang memberi arti bagi orang lain. Tak pernah melukai, meski setitik. Tak pernah menyakiti, meski senoktah.

Padahal aku tak pernah ingin berpura-pura dalam hidupku. Aku ingin menjadi aku. Dengan idealismeku dulu. Menyampaikan apa yang perlu kusampaikan. Tak perlu menyampaikan kepalsuan. Aku ingin menyampaikan kebenaran. Jika kepalsuan itu harus disampaikan, semata untuk membuat si palsu terkuak. Aku ingin menjadi orang baik.

Padahal aku ingin, dengan peranku aku memberi secercah harap. Seberkas asa. Bagi mereka, Tuhan. Mereka yang dihempas duka, mereka yang terluka, mereka yang menahan jerit. Meski sekedar uluran tangan. Pelukan seorang saudara. Sekedar menenangkan. Meski hanya sementara. Menjadi orang baik.

Padahal, dengan peranku, aku bisa tulus berbagi dengan mereka. Membiarkan mereka membagi luka, memberi sedikit kehangatan. Dengan ikhlasku, dengan kerelaanku. Sebagai saudara, sebagai teman, sebagai tempat berbagi. Menjadi orang baik.

Padahal dengan peranku, aku tak usah berpura-pura. Aku bisa lebih memaknai senyumku untuk menghadiahkan sedikit bahagia dihati mereka. Dengan simpati yang tak lagi palsu. Sebenar-benarnya simpati.

Padahal dengan peranku, dengan kelurusan niatku, aku ingin membuat cerita-ceritaku bermakna. Membuat kisah-kisah dari tanganku dapat merubah dunia. Membuat manusia lain lebih merasa dan berterimakasih atas takdir mereka yang lebih. Membuat mereka berlomba menjadi orang baik.

Padahal dengan peranku, aku bisa mengungkap dusta dan mengusir si durjana. Dengan keteguhan dan keberanianku, aku bisa menghapus kotoran-kotoran dunia. Menuntut mereka untuk menjadi orang baik.

Wahai Penguasa Dunia, Penguasa Diriku…..

Ampuni aku yang telah menutup hati dan mengebalkan rasa. Ampuni aku yang tidak memaknai peranku. Aku mencintai peranku, Yang Maha Perkasa. Aku ingin lelah fisik dan batinku memberi arti, hanya bagiMu, Penulis Skenario sesungguhnya, bukan sekedar kekaguman para ciptaanmu.

Penguasaku, luruskan langkahku. Untuk menjadi ciptaanmu yang tak sia-sia. Yang tak terlupa oleh kecantikan fana. Yang tak membuat peranku, amanahMu, mengantarku pada amarahMu. Yang selalu diingatkan untuk menjadi orang baik. Seperti cita sederhanaku dulu.

Raja Dunia, tetapkan niatku untuk memaknai setiap detik peranku. Merasainya, menikmatinya, mensyukurinya sebagai sebuah kepercayaan-Mu padaku. Kuatkan aku untuk melangkahkan kakiku dan menghargai keringatku dengan harapan hanya balasan-Mu. Menjadi orang baik.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah padaKu.” (Adz Dzariyaat:56)

Ami Ruchjat
amiruchjat@yahoo.com

(Rabbku, ingatkan aku selalu untuk tetap menjadi jurnalis sejati)

Bekal Utama Ramadhan

Puasa layaknya sebuah pertandingan. Pertandingan antara kita melawan segala macam keinginan dan hawa nafsu. Segala persiapan dan strategi mutlak kita perlukan saat menjalaninya. Tanpa persiapan dan strategi yang tepat dan jelas, bersiaplah menuai kekalahan: puasa kita tidak memiliki nilai, apapalgi harus mewujud menjadi sebuah ketakwaan, yang terlihat dari amalan kita sehari-hari saat usai menjanainya.

KEHIDUPAN setiap Muslim layaknya sebuah perjalanan. Berangkat dari satu titik menuju titik lain. Dunia layaknya sebuah pulau tempat beristirahat, saat perjalanan yang harus dilalui masih sangat panjang. Ada banyak kewajiban yang harus dilakukan di pulau itu. Tentu dengan waktu yang sangat terbatas: satu tahun, dua tahun, hingga ada yang memiliki banyak waktu, mungkin sampai seratus tahun.

Puasa adalah sebuah aktivitas yang harus setiap Muslim lakukan di pulau dunia tempat mereka beristirahat itu. Karena aktivitas puasa ini sangat diperhitungkan dalam perjalanan, agar sampai di tempat yang dituju, maka mempersiapkan perbekalan menjadi sebuah keharusan yang mutlak.
Persiapan, dalam banyak hal, menjadi tolok ukur berhasil atau tidaknya seseorang menjalani sebuah prosesi kehidupan. Kegagalan merencanakan, sama dengan merencanakan kegagalan. Demikian sebuah pepatah bertutur.

Sangat masuk akal. Seseorang yang memiliki rencana bepergian ke sebuah tempat harus memayahkan dirinya membuat tidak hanya landasan filosofis, makna, dan tujuan perjalanan itu, tapi juga hal-hal teknis, termasuk menyiapkan perbekalan: bekal apa yang harus dibawa?
Bayangkan jika kita berencana pergi ke sebuah gurun, atau tempat yang di sana tak sedikit pun air. Tanpa persiapan perbekalan air dan persiapan urgen lainnya, bukan hanya kegagalan yang akan kita peroleh, boleh jadi kematian menjemput kita di sana.

Bayangkan pula saat kita mengikuti sebuah pertandingan. Ia adalah aktivitas yang memerlukan bekal berupa strategi tepat dan jitu. Tanpa persiapan itu, apapu n pertandingannya, bersiaplah menuai kekalahan.

Lantas, apa yang harus kita persiapkan sebagai bekal melakukan puasa?

***
PUASA layaknya sebuah pertandingan. Pertandingan antara kita melawan segala macam keinginan dan hawa nafsu. Segala persiapan dan strategi mutlak kita perlukan sebagai bekal saat menjalaninya. Tanpa persiapan dan strategi yang tepat dan jelas, bersiaplah menuai kekalahan: puasa kita tidak memiliki nilai, apapalgi harus mewujud menjadi sebuah ketakwaan, yang terlihat dari amalan kita sehari-hari saat usai menjalaninya.

Artinya, puasa bukan hanya aktivitas tidak makan dan tidak minum. Lebih jauh dari itu, ia menuntut pengekangan segala hal yang berkaitan dengan nafsu. Maka, sesungguhnya bukan persiapan fisik yang lebih utama disiapkan, tapi persiapan mendekatkan diri kepada Yang Memerintahkan puasa, Allah Swt. Jika tali hubungan kita dengan Allah Swt rusak, ia mutlak untuk diperbaiki. Tali hubungan dengan Allah inilah yang kemudian kita namakan akidah..
***

KENAPA akidah? Akidah berarti ikatan, kepastian, penetapan, pengukuhan, atau pengencangan yang kuat. Ia meliputi keimanan dan mentauhidkan Allah, beriman kepada malaikat, beriman kepada kitab Allah, beriman kepada Nabi-nabi dan RasulNya, beriman kepada takdir baik dan buruk yang datang dari Allah, dan segala perkara ghaib. Karena itu, akidah menjadi sumber pokok segala aktivitas. Tak mungkin seseorang melakukan puasa jika akidahnya tidak benar. Atau, jika akidah seseorang tidak benar dan lurus, maka ia seperti seseorang yang bergantung pada tali yang hampir putus. Kecenderungan untuk tercebur ke dalam jurang di bawahnya sangat tinggi.

Bagaimana akidah kita menjelang aktivitas puasa Ramadhan nanti? Inilah pertanyaan mendasar yang harus mengawali kita menghadapi aktivitas itu. Tanpa mempersiapkan hal itu, boleh jadi puasa kita tidak sampai ke tepian. Bahkan, kegembiraan fitri kita tidak dibarengi dengan kegembirahan ruhani kita, karena kegagalan puasa kita akibat kegagalan merencanakannya di awal waktu.


Semoga, sajian kami pada edisi yang mengantarkan tema "Bekal Utama Ramadhan" ini menjadi bagian dari persiapan kita menjemput bulan penuh kemuliaan itu. Selamat membaca! Semoga bermanfaat. Wallahua'lam. (Syam/MQ)***

MENAHAN LAPAR SEMALAMAN KARENA MENGHORMATI TETAMU

Seorang telah datang menemui Rasulullah S.A.W dan telah menceritakan kepada baginda tentang kelaparan yang dialami olehnya. Kebetulan pada ketika itu baginda tidak mempunyai suatu apa makanan pun pada diri baginda mahupun di rumahnya sendiri untuk diberikan kepada orang itu. Baginda kemudian bertanya kepada para sahabat, "Adakah sesiapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tetamunya pada malam ini bagi pihak aku ?"

Seorang dari kaum Ansar telah menyahut, "Wahai Rasulullah S.A.W, saya sanggiup melakukan seperti kehendak tuan itu."

Orang Ansar itu pun telah membawa orang tadi ke rumahnya dan menerangkan pula kepada isterinya seraya berkata, "Lihatlah bahawa orang ini ialah tetamu Rasulullah S.A.W. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan mengikut segala kesanggupan yang ada pada diri kita dan semasa melakukan demikian janganlah kita tinggalkan sesuatu makanan pun yang ada di rumah kita."

Lau isterinya menjawab, "Demi Allah! Sebenarnya daku tidak ada menyimpan sebarang makanan pun, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita di rumah ini ?"

Orang Ansar itu pun berkata, "Kalau begitu engkau tidurkanlah mereka dahulu (anak-anaknya) tanpa memberi makanan kepada mereka. Apabila saya duduk berbual-bual dengan tetamu ini di samping jamuan makan yang sedikit ini, dan apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil berpura-pura hendak membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidakk akan ketahui bahawa saya tidak makan bersama-samanya."

Rancangan itu telah berjalan dengan lancarnya dan seluruh keluarga tersebut termasuk kanak-kanak itu sendiri terpaksa menahan lapar semata-mata untuk membolehkan tetamu itu makan sehingga berasa kenyang. Berikutan dengan peristiwa itu, Allah S.W.T telah berfirman yang bermaksud, "Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan." (Al-Hasy : 9)